“Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang ‘kan terjadi..”

 

Demikian menurut grup band legendaris jaman orang tua saya muda, Koes Plus. Ya, melalui lagu “Kembali Ke Jakarta”, grup musik beranggotakan Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, John Koeswoyo, Tonny Koeswoyo dan Murry ini menyebutkan jelas si tokoh dalam lagu akan tetap kembali ke Jakarta walau apapun akan terjadi terhadap nasibnya di ibu kota ini.

Bukan tanpa alasan saya mengutip lagu itu, tapi rasanya lagu itu pas sekali untuk menggambarkan kondisi saya terhadap Jakarta. Benci tapi rindu, karena selalu mengeluhkan kepadatan dan kemacetan kota ini, tapi saya sering rindu untuk pulang ke Jakarta jika sedang melancong. Hehehe..

22 Juni lalu, Jakarta merayakan hari jadinya. Walaupun banyak ahli sejarah menyatakan 22 Juni 1527 sebagai hari jadi Jakarta yang ngga jelas sumber sejarahnya, tapi saya melihatnya sebagai momentum peringatan saja. Hari dimana ibu kota negara ini diperlakukan khusus. Dirgahayu kotaku tercinta ke 489!

Ya, saya berdarah Betawi, lahir dan besar di Jakarta. Tetapi rasanya minim juga pengetahuan sejarah saya terhadap kota ini. Makanya saya yang memang penyuka museum dan tempat-tempat historical seringkali ikut tur dan pergi ke museum. Tepat di 22 Juni lalu, saya mencermati akun instagram milik KompasTV yang ternyata membahas foto beberapa tempat ikonik Jakarta sekarang di masa 40-30-an tahun lalu. Apa saja tempatnya dan bagaimana sejarahnya? Berikut saya cuplik beberapa di antaranya:

Patung Pancoran
Inilah Patung Dirgantara atau yang dikenal Patung Pancoran. Patung Dirgantara dibuat pematung Edhie Soenarso yang juga membuat Monumen Selamat Datang di Bundaran HI dan Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Dibuat pada 1964-1965, patung ini dibangun untuk menunjukkan kekuatan, kepemimpinan, dan kemegahan Indonesia di udara.

Patung Dirgantara, foto: Kartono Ryadi/KOMPAS
Patung Dirgantara (1983). Foto: Kartono Ryadi/KOMPAS

 

Tugu Monumen Nasional (Monas)
Tugu ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, terletak persis di pusat kota Jakarta. Saat setelah pusat pemerintahan RI kembali ke Jakarta dari Yogyakarta pada 1950, Presiden Soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan depan Istana Merdeka. Keinginan pembangunan ini tak lain untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945 sehingga diharapkan dapat terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang. Pembangunan monumen ini dimulai pada 17 Agustus 1961 dibawah perintah presiden Soekarno dan dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975. Arsitek yang merancang Tugu Monas adalah Frederich Silaban, yang juga membuat rancangan bangunan Mesjid Istiqlal dan RM Soedarsono.

Silang Monas pada 1977. Foto: Kartono Ryadi/KOMPAS
Silang Monas (1977). Foto: Kartono Ryadi/KOMPAS

Jembatan Semanggi

Terletak di Kawasan Karet, Semanggi, Jakarta Selatan dibangun pada tahun 1961. Karena bentuknya mirip dengan struktur daun lalapan semanggi, maka meresap dan menjadi nama jembatan itu sendiri. Kini, pemerintah pun tengah melakukan pembangunan Semanggi Interchange atau penambahan ruas jalan layang di Jembatan Semanggi agar kemacetan berkurang dan diperkirakan selesai 2017 mendatang.

Jembatan Semanggi (1973). Foto: MJ Kasiyanto/KOMPAS
Jembatan Semanggi (1973). Foto: MJ Kasiyanto/KOMPAS

Bandara Internasional Kemayoran

Sebelum Bandara Soekarno-Hatta beroperasi pada 1985, Bandara Kemayoran adalah bandara internasional yang diandalkan warga Jakarta. Bandara ini dibangun Belanda pada 1938 dan beroperasi pada 1940-1985. Sayangnya, kini Bandara Kemayoran tidak terurus dan cenderung terbengkalai, padahal bandara ini menjadi tonggak sejarah perkembangan Indonesia. Bandara Kemayoran bahkan pernah disebut dan digambar dalam seri pertualangan Tintin berjudul Penerbangan 714 (Vol 714 pour Sydney) karya Georges Remi atau Hergè.

Bandara Kemayoran (1981). Foto: KOMPAS
Bandara Kemayoran (1981). Foto: KOMPAS
Tintin 714
Penyebutan Bandara Kemayoran di komik Petualangan Tintin. Sumber di sini.

Monumen Selamat Datang

Monumen ini kini lebih dikenal dengan sebutan Patung Selamat Datang atau Patung Bundaran Hotel Indonesia (HI). Monumen yang dibangun seniman patung asal Yogyakarta, Edhie Soenarso ini dibuat menjelang perhelatan Asian Games 1962. Monumen ini dijadikan simbol sambutan bagi kontingen negara-negara peserta Asian Games 1962 yang baru tiba di Jakarta. Saat ini, Monumen Selamat Datang menjadi landmark terkenal dan menjadi salah satu pusat keramaian di Jakarta.

Suasana kawasan Bundaran HI dan Tugu Selamat Datang (1976) Foto: Kartono Ryadi/KOMPAS
Suasana kawasan Bundaran HI dan Tugu Selamat Datang (1976) Foto: Kartono Ryadi/KOMPAS

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun kereta api ini dibangun untuk merayakan 50 tahun kereta api di Hindia Belanda. Siapa sangka, stasiun yang kini jadi salah satu bangunan bersejarah ini pernah jadi yang terbesar di ASEAN, lho. Stasiun Jakarta Kota atau yang dikenal dengan nama Stasiun Beos ini jadi yang terbesar pada masanya dan hingga kini pun stasiun ini masih jadi yang tersibuk di Jakarta. Untuk ukuran bangunan kuno, stasiun yang selesai pada tahun 1929 ini termasuk yang masih awet. Meski sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan, tapi bangunan utamanya masih terbilang kokoh.

Stasiun KA Jakarta Kota atau Beos (1972). Foto: Syamsul Hadi/KOMPAS
Stasiun KA Jakarta Kota atau Beos (1972). Foto: Syamsul Hadi/KOMPAS

Nah, itu tadi beberapa tempat dan bangunan di Jakarta beserta sejarah singkatnya. Melihatnya berkembang seperti sekarang, tentunya menyenangkan. Namun jika tak terurus seperti Bandara Kemayoran, tentunya menyedihkan. Personally saya sedih karena bandara ini disebut dalam salah satu seri di komik favorit saya, Tintin. Tentunya tidak semua yang di-posting Instagram KompasTV saya pindahkan ke sini, selengkapnya bisa dilihat sendiri ya di akun mereka. Sekali lagi, dirgahayu Jakarta! Semakin padat, semakin maju dan semoga penduduknya semakin merawatmu. Amiin.

 

Views All Time
Views All Time
4770
Views Today
Views Today
2
Jakarta Tempo Dulu
Tagged on:                                                                                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com