Rasanya sebagai orang Indonesia, saya acapkali merasa beruntung. Salah satunya karena kekayaan rasa masakan Indonesia. Terlebih lagi, karena saya si penggemar sambal tak pernah merasa bosan makan, lagi-lagi karena keanekaragaman variasi sambal kita. Eits, tulisan ini nggak mau ngomongin masakan Indonesia. Tapi justru bakalan membahas efek dari hobi makanan saya ke berat badan, haha.. 😀 Oiya, tulisan ini dibuat dalam rangka nge-blog bareng teman saya, Lia Picauly di proyek berjudul MomiNat.

Padang cuisine
Padang cuisine *seketika lapar*

 

Jika membandingkan foto saya di Timehop 5 tahun lalu, seperti foto saat saya tengah berlibur ke Phuket, Thailand, pertengahan Februari 2011 misalnya. Nampak nyata angka di timbangan bergerak ke kanan signifikan dalam 5 tahun terakhir, hahaha.. 😀

5 tahun lalu dan entah berapa kilogram yang lalu
5 tahun lalu dan entah berapa kilogram yang lalu..

lalu bandingkan dengan ini..

Awal Oktober 2015
Awal Oktober 2015

Ya, ngga dipungkiri, makan dan kuliner menjadi hobi saya sejak lama. Seiring berjalannya waktu, metabolisme yang kurang oke, olah raga males-malesan dan usia (aha!), maka si hobi ngunyah ini berdampak ke badan saya. September 2015 lalu saya memiliki tekad kuat untuk menguruskan badan (ya, sama, kan cita-cita kita semua 😀 ). Kali ini bukan sekedar resolusi (ya udahan September juga, dehhh..), tapi beneran niat karena saya merasa cepat cape dan ngos-ngosan kalau jalan agak jauh atau naik turun tangga di jarak yang biasanya nggak ngos-ngosan. Fine, nggak sekedar itu saja, kebetulan satu motivasi lagi asalnya dari nikahan teman dekat, haha.. Kebetulan di pernikahan teman saya, saya bertugas mendampingi sebagai bridesmaid. Masa mau jadi bridesmaid eike gendats? Itulah yang jadi motivasi. Kemudian segera saja saya berkonsultasi dengan dokter khusus masalah ini (bariatric and eating disorder) dan juga dokter gizi supaya diet lebih terarah.

Masa gemuk itu
Masa-masa gemuk sekali

Pertama-tama, tentunya saya dihitung Body Mass Index (BMI) untuk mengetahui status berat badan. Saat itu yang saya ingat status berat badan saya termasuk Obesitas tipe 1, dengan range BMI 25-29,9. Hmmm, banyak yang nggak percaya sebenarnya saat saya dikategorikan Obesitas tipe 1. Iya, saya beruntung termasuk orang yang tinggi (174 cm untuk ukuran perempuan Indonesia tinggi, dong..) sehingga tak nampak gemuk selayaknya orang obesitas. Lha, terus dari mana tahu saya gemuk? Ya sebagai yang punya badan, saya tentunya tahu dong. Terutama dari ukuran pakaian yang saya kenakan, celana yang menyempit, kemeja yang kancingnya makin mrekecet, dan lain-lain.

Setelah penghitungan BMI usai, saya diharuskan menetapkan target berat badan dan BMI wajib menyentuh status Sehat, yaitu 18,5-22,9 (BMI untuk Asia). Oiya, untuk cara penghitungan BMI bisa dicek di sini.  Setelah itu, saya diminta makan dengan pola yang sudah ditentukan dan mencatat apa saja yang saya makan menggunakan food diary. Kok ribet? Ngga, karena saya tahu tujuan mencatat ataupun mendokumentasikan apa yang kita makan adalah agar kita sadar betul apa saja yang kita masukkan ke badan kita. Tersiksa nggak? Ngga, tuh. Malahan, saat proses total diet yaitu selama 2-2,5 bulan inilah masa-masa di mana saya benar-benar sadar bahwa diet adalah pengaturan pola makan. Diet bukan berarti mengurangi waktu makan atau malah tidak makan/skip waktu makan. Intinya ada di apa yang kita makan, bukan mengurangi jatah makan tapi makanan yang dimakan tetap yang ngga sehat ataupun tinggi kalori. Tim dokter yang merawat saya adalah tim dr. Grace Judio-Kahl, yang menganut diet kalori. Singkatnya, harus itung-itungan kalori kalau memang mau mengurangi ataupun menambah berat badan.

Selama ini saya berpikir makan terakhir pukul 7 malam, namun hal ini dibantah dokter gizi saya yang menyatakan “Makan boleh jam berapa saja, yang penting perhatikan apa yang dimakan.” Mulai saat itu, saya berhenti jadi orang yang anti makan malam, hehe..  Sebenarnya saya berencana menuliskan contoh pola makan saya, namun apa daya, sebagian catatannya ada di buku yang tertinggal di kantor. Jadi, nanti saya tambahkan saja ya ke tulisan ini.

Kiri: 8 Juni 2015; Tengah: 2 Oktober 2015; Kanan: 15 November 2015
Kiri: 8 Juni 2015; Tengah: 2 Oktober 2015; Kanan: 15 November 2015

Di akhir November 2015 saat pernikahan teman saya berlangsung, saya belum sampai di target berat badan yang saya inginkan karena masih kurang 1,5 kg lagi, namun saya cukup bangga dengan hilangnya 7,5 kg berat badan. Ditambah, BMI saya sudah masuk status Sehat 😀 Yay!! Sekarang, sih, belum ada keinginan diet dulu, karena masih mau makan ngaco (ini jangan ditiru, haha) 😀

Pertengahan Desember 2015
Pertengahan Desember 2015, pipi jauh lebih tirus

 

HAL PENTING YANG HARUS DIINGAT…

  • Dahulukan makan protein dibanding karbohidrat (bukan berarti nggak makan karbohidrat, lho, ya)
  • Sebisa mungkin hindari gula, lemak dan tepung
  • Diet dengan makan buah saja tidak selamanya membantu penurunan berat badan karena ada gula yang terkandung dalam buah
  • Sekali ada minyak dalam makanan, judulnya tetaplah minyak, mau minyak sehat, agak sehat atau minyak biasa (ngerti maksudnya, dong, hehe)
  • Healthy oil patut diperhitungkan untuk penderita penyakit kardiovaskular
  • Perbanyak minum air putih yang 0 kalorinya
  • Saat belanja untuk memasak, buatlah daftar belanjaan untuk mencegah lapar mata
  • Produk organik belum tentu mempunyai khasiat melangsingkan karena nilai kalorinya sama saja dengan produk non-organik
  • Pilih makanan berkarbohidrat baik, seperti nasi merah dan kentang rebus
  • Makanan berkolesterol rendah boleh dimakan sering. Yang termasuk kategori ini adalah putih telur, daging ayam atau bebek tanpa kulit, ikan air tawar, daging sapi dan kambing tanpa lemak
  • Hindari makanan yang digoreng (iya, ini super susah!! Tapi kalau motivasi kuat, pasti bisa, kok!)
  • Langkah hidup sehat dimulai dari mengubah kebiasaan saat belanja makanan
  • Tak ada yang mampu merawat tubuh kita sebaik kita sendiri
  • Temukan motivasi terkuatmu untuk mengurangi ataupun menambah berat badan
  • Semangat yaaa!

Pendapat, kritik ataupun pengalamanmu saya tunggu di kolom komentar di bawah ini ya 🙂

Screen Shot 2016-02-21 at 10.16.15 PM

Views All Time
Views All Time
1863
Views Today
Views Today
1
Tentang Memilih Makanan

4 thoughts on “Tentang Memilih Makanan

  • 21 February 2016 at 10:57 PM
    Permalink

    Cool Ne
    Thank you buat story nya

    Kmrn seminggu Gw coba gak makan gorengan at all, mmg jauh kebih enak. Bab lancar, badan lebih seger.
    Pagi sarapan buah dan putih telur, cukup kuat sampai jam 11.30 – haha
    Harus diterusin nih pola makan sehat ?

    Semangatttt

    Reply
    • 21 February 2016 at 11:02 PM
      Permalink

      Hahaha.. Mba Meyer, sarapan boleh scrambled eggs gitu kok.. Biar kenyangan lagi. Tetep mesti kenyang sih, asal jangan terlalu kenyang, ya. Semangaaat!

      Reply
  • 22 February 2016 at 8:54 AM
    Permalink

    Aku juga makin bertambah berat badannya nih, Inath. Jadi pengen diet tapi hanya sekeedar ‘pengen’. Hikksss
    Sepertinya harus memiliki niat yang kuat yaa

    Reply
  • 22 February 2016 at 4:42 PM
    Permalink

    Motivasi mau ‘tampil’ itu emang udah terbukti ngebantu banget program pembentukan badan (jadi lebih ideal) yah haha.. Pengen ngebentuk badan lagi nih haha.. Harus jaga makan lagi, terima kasih buat tulisannya yang jadi inspiring lagi ^^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com